Cerita Anak : Umar Takut Jika Menelantarkan Rakyatnya
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah mengutus para nabi dan rasul-Nya sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Dalam buku ini, kita akan menggali hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah para nabi, sahabat, serta prinsip-prinsip ajaran Islam yang dapat menjadi cahaya penerang dalam kehidupan kita. Semoga setiap kisah yang dipaparkan tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga menguatkan iman kita dan mendorong kita untuk meneladani akhlak mulia serta kepemimpinan yang adil. Mari kita renungkan dan amalkan ajaran-ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari, agar kita senantiasa berada dalam lindungan dan ridha Allah SWT.
Suatu hari, setelah penaklukan Iskandariyah yang bikin lelah, Muawiyah bin Hudaij radhiallahu 'anhu datang menemui Umar. Ia menghentikan hewan tunggangan dan, saat itu, seorang budak wanita muncul. Melihat Umar yang kelelahan seperti baru saja menghadapi ujian sisa hidup, budak itu mengajaknya masuk dan menyuguhkan hidangan berupa roti, zaitun, dan kurma. Umar pun menyantap hidangan tersebut dan, sambil berusaha menghabiskan semua makanan dengan cepat, bertanya kepada Muawiyah, “Eh, kamu ngomong apa di masjid tadi?”
Muawiyah, yang jelas ingin bersikap baik, menjawab, “Saya bilang, Amirul Mukminin sedang tidur siang.”
Umar pun langsung mengernyitkan dahi. “Buruk sekali itu, Muawiyah! Tidur siang? Gimana bisa? Kalau aku tidur di siang hari, itu artinya aku menelantarkan rakyatku! Dan kalau aku tidur di malam hari, berarti aku menyia-nyiakan diriku sendiri dengan tidak shalat malam! Jadi, mending aku tidak tidur sama sekali daripada bikin rakyatku kecewa!”
Di sini Muawiyah mungkin cuma ingin menghibur Umar, memberi tahu bahwa rakyatnya bisa memaklumi pemimpin mereka butuh istirahat. Tapi Umar justru panik, “Eh, kalau ada unta mati karena aku tidak peduli, aku takut Allah bakal tanya, ‘Umar, di mana unta-unta itu? Mau dibawa ke mana?’”
Luar biasa, kan? Umar sampai memikirkan nasib seekor unta! Bayangkan saja, saat unta di bawah kepemimpinannya mati karena kelaparan atau terjepit di jalan, Umar pasti merasa Allah bakal menuntutnya. “Unta itu tanggung jawabku!” teriak Umar.
Ketika dia mengingat semua itu, pastinya dia berpikir, “Kalau unta aja diurus, apalagi rakyat!” Dan kita pun harus bertanya, kalau Umar peduli sama hewan, gimana dengan nasib kita yang manusia? Apakah kita sudah sepeduli itu sama orang-orang di sekitar kita?
Nah, saat melaksanakan haji terakhir, Umar duduk bersimpuh, mengangkat kedua tangannya ke langit, dan berdoa, “Ya Allah, usiaku sudah uzur, fisikku sudah kayak sisa baterai HP, sementara rakyatku semakin banyak! Cabutlah nyawaku sebelum aku telat balas pesan dari mereka!”
Umar ini bener-bener sosok yang membuat kita geleng-geleng kepala. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tapi amanah berat yang bikin stres, terutama dengan semua masalah jalanan yang macet, berlubang, dan banjir di zaman kita ini. Jadi, mari kita semua jadi pemimpin yang amanah dan adil, jangan sampai kita dipanggil oleh Allah dengan pertanyaan, “Di mana unta-unta kalian?” Semoga kita bisa mendapatkan ridha dan rahmat-Nya, seperti yang selalu dipanjatkan untuk Umar, Amirul Mukminin!
Komentar
Posting Komentar