Cerita Nabi : Kisah Pertemuan Nabi Yusuf dan Keluarganya yang Mengharukan
Setelah berlalu beberapa hari, saudara-saudara Yusuf kembali kepada ayahnya dan memberitahukan kabar gembira tentang saudara mereka Yusuf. Mereka mengeluarkan gamis Yusuf dan meletakkannya ke wajah ayahnya, dan saat itu juga, penglihatannya pun kembali normal.
Ketika itu, saudara-saudaranya meminta kepada ayah mereka agar memintakan ampunan untuk mereka kepada Allah. Nabi Ya’qub menjanjikan akan memintakan ampunan untuk mereka nanti di waktu sahur, karena waktu tersebut lebih mustajab.
Selanjutnya, Ya’qub beserta anak-anaknya (Bani Israil) pergi meninggalkan Palestina menuju Mesir. Saat mereka masuk ke negeri Mesir, mereka disambut dengan sambutan yang besar. Yusuf juga memuliakan kedua orang tuanya dan menempatkan mereka di kursinya. Ketika itu, Ya’qub dan istrinya beserta sebelas anaknya tidak sanggup menahan diri untuk sujud sebagai penghormatan kepada Yusuf.
Mendengar ini, Yusuf teringat akan mimpinya yang dahulu ketika ia masih kecil. Ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku sebelas bintang, matahari, dan bulan; aku melihat mereka semua sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4-6).
Yusuf melanjutkan, “Inilah ta'bir mimpiku yang dahulu. Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia mengeluarkan aku dari penjara dan membawa kalian dari dusun padang pasir setelah setan menimbulkan perpecahan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100)
Setelah mereka saling berpelukan, Nabi Yusuf memandang ayahnya dengan penuh kasih dan berkata, “Wahai ayahku, kita telah dipertemukan kembali oleh Allah. Sekarang, marilah kita bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat ini.”
Nabi Ya’qub, dengan air mata bahagia, menjawab, “Sungguh, aku telah lama menanti hari ini. Allah telah mengabulkan doaku.”
Ketika Yusuf memegang pemerintahan Mesir, ia menggunakan kesempatan itu untuk mengajak rakyatnya menyembah Allah. Setelah urusannya selesai dan ia merasa bahwa hidupnya tidak lama, Yusuf berdoa sambil mengakui nikmat Allah, menyukurinya dan berdoa agar tetap di atas Islam sampai akhir hayat. Ia berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat; wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, bahwa Nabi Muhammad (SAW) pernah ditanya tentang orang yang paling mulia. Beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertakwa.” Ketika para sahabat bertanya lagi, “Bukan ini maksud pertanyaan kami?” Beliau pun bersabda, “Yaitu Yusuf, seorang Nabi Allah, putera Nabi Allah, putera Nabi Allah, putera kekasih Allah.”
Komentar
Posting Komentar