Langsung ke konten utama

Cerita Nabi : Nabi Yusuf Si Pemaaf dan Penyesalan Saudaranya (10)

Cerita Nabi Yusuf adalah salah satu kisah yang paling menginspirasi dalam Al-Qur'an, menggambarkan perjalanan hidupnya yang penuh liku dan pengujian. Dalam kisah ini, kita menyaksikan bagaimana kasih sayang, pengampunan, dan keyakinan kepada rencana Allah mengubah takdir. Pertemuan kembali antara Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya mengajarkan kita tentang pentingnya keluarga dan kekuatan dalam menghadapi ujian hidup. Mari kita telusuri kisah ini dan ambil pelajaran berharga dari setiap langkah yang diambil oleh Nabi Yusuf dan keluarganya. Cerita ini cukup panjang, baca versi lebih ringkas di sini.

Nabi Yusuf Bertemu dengan Saudara-saudaranya

Suatu hari, ketika Nabi Yusuf yang kini menjadi penguasa di Mesir sedang membagikan bahan makanan kepada rakyat, ia tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan sekelompok pria yang tampak kelelahan. Ternyata mereka adalah saudara-saudaranya yang datang dari Kanaan, meskipun mereka tidak mengenali Yusuf.

Dengan penuh kesabaran, Yusuf menanyai mereka, “Siapa kalian?”

“Kami datang dari Kanaan untuk membeli bahan makanan,” jawab salah satu saudaranya dengan rendah hati.

“Kami adalah dua belas bersaudara,” lanjutnya, “tapi salah satu dari kami telah hilang, dan yang termuda, Bunyamin, tidak ikut karena ayah kami sangat mencintainya.”

Yusuf berusaha menahan emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia kemudian menyediakan bahan makanan yang melimpah untuk mereka. Namun sebelum mereka pergi, Yusuf memberikan tantangan, “Bawalah saudaramu yang seayah ke sini, jika tidak, jangan harap kalian bisa mendekatiku lagi!” (QS. Yusuf: 59-60)

Mendengar hal ini, saudara-saudaranya saling berpandangan, bingung. Tapi akhirnya, salah satu dari mereka berkata, “Kami akan membujuk Bunyamin untuk ikut. Kami berjanji akan membawanya.”

Sebelum mereka pulang, Yusuf menyuruh para pelayannya untuk diam-diam mengembalikan barang-barang yang mereka tukarkan ke dalam karung-karung mereka. Yusuf berharap ini akan membuat mereka kembali tanpa merasa kekurangan.

Kepulangan ke Kanaan Meminta Izin Ayahnya

Sesampainya di rumah, mereka langsung menemui ayah mereka, Nabi Ya'qub. Dengan hati-hati, mereka memohon, “Wahai Ayah, kami takkan mendapatkan takaran gandum lagi kecuali jika kami membawa Bunyamin. Biarkan dia pergi bersama kami, demi keluarga kita.”

Mendengar permintaan mereka, Nabi Ya'qub menatap mereka penuh kekhawatiran. “Bunyamin sangat berharga bagiku. Aku tak bisa kehilangannya seperti Yusuf.”

“Tapi Ayah, kami berjanji, kami akan menjaganya dengan nyawa kami,” saudara yang lain menambahkan, “Bersama Bunyamin, kita akan mendapatkan lebih banyak bahan makanan.”

Setelah berpikir lama, Nabi Ya'qub akhirnya berkata, “Aku tidak akan melepaskannya kecuali kalian bersumpah atas nama Allah bahwa kalian akan membawanya kembali, kecuali jika kalian dikepung musuh.” (QS. Yusuf: 66)

Saudara-saudara Yusuf berjanji, “Kami berjanji, Ayah. Kami akan membawanya kembali, atau kami tidak akan kembali sama sekali.”

Dengan berat hati, Nabi Ya'qub setuju. “Baiklah, bawalah dia, tapi ingatlah, jaga dia baik-baik.”

Sebelum mereka berangkat, Nabi Ya'qub memberi mereka nasihat bijak, “Ketika kalian tiba di Mesir, masuklah dari pintu-pintu yang berbeda agar kalian tidak terlihat mencolok.” (QS. Yusuf: 67)

Perjalanan ke Mesir Bersama Bunyamin

Sesampainya di Mesir, mereka mengikuti nasihat ayahnya dan memasuki kota dari pintu yang berbeda. Mereka merasa cemas tetapi tetap penuh harapan akan berhasil membawa pulang bahan makanan.

Ketika mereka tiba di hadapan Yusuf, ia menyambut mereka dengan ramah. Hati Yusuf bergetar melihat Bunyamin, saudara kandungnya. Saat makan, Yusuf mengatur agar Bunyamin duduk di sampingnya. Dengan suara lembut, ia berbisik kepada Bunyamin, “Aku adalah saudaramu, Yusuf. Jangan bersedih lagi atas apa yang telah terjadi.” (QS. Yusuf: 69)

Mendengar itu, Bunyamin terkejut. “Saudaraku? Yusuf... ini benar-benar kamu?” bisiknya dengan mata berkaca-kaca.

Yusuf tersenyum, “Iya, aku, saudaraku. Allah telah mempertemukan kita kembali.”

Mereka saling berpelukan, tapi Yusuf meminta agar Bunyamin tetap tenang. “Kita harus bersabar sedikit lagi; aku punya rencana untuk menguji saudara-saudara kita.”

Bunyamin Dituduh Mencuri

Ketika hari keberangkatan tiba, Yusuf memerintahkan pelayannya untuk menyembunyikan piala kerajaan di dalam karung Bunyamin. Ketika mereka hendak pulang, para penjaga menghentikan mereka, menuduh bahwa salah satu dari mereka telah mencuri piala raja.

“Kami? Demi Allah, kami tidak datang untuk mencuri!” protes mereka dengan penuh ketidakpercayaan.

Namun, ketika karung-karung diperiksa, piala itu ditemukan di dalam karung Bunyamin. Mereka tak percaya. “Ini pasti ada kesalahpahaman! Bunyamin tidak mungkin mencuri!” seru mereka.

Menurut syariat Nabi Ya'qub 'alaihissalam, barang siapa yang mencuri maka hukumannya adalah si pencuri dijadikan budak satu tahun bagi orang yang dicuri. Dengan demikian, Bunyamin berpotensi menghadapi hukuman yang sangat berat.

Mereka pun berkata, “Jika dia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf bersembunyi kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya), “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu terangkan itu.” (QS. Yusuf: 77)

Mereka langsung memohon kepada Yusuf, “Wahai al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya. Oleh karena itu, ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Yusuf berkata, “Aku mohon perlindungan kepada Allah dari menahan seseorang, kecuali orang yang kami temukan harta benda kami di atasnya. Jika kami berbuat demikian, maka kami benar-benar sebagai orang-orang yang zalim.” (QS. Yusuf: 78-79)

Yusuf Mengungkapkan Identitasnya

Ketika mereka memutuskan asa dari keputusan Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkanku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang terbaik-baiknya.” (QS. Yusuf: 80)

Maka kembalilah kepada ayahmu dan katakan, “Wahai ayah kami! Sebenarnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya melihat apa yang kami ketahui, dan kami sekali-kali tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Selanjutnya, jika ayah ragu-ragu, katakan kepadanya, “Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 81-82)

Ayah mereka (Nabi Ya'qub) menjawab, “Hanya dirimu sendirilah yang memandang perbuatan baik (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Yusuf merasa waktunya telah tiba untuk mengungkapkan identitasnya. Ia menatap mereka dan dengan penuh emosi berkata, “Tahukah kalian siapa aku sebenarnya? Aku adalah Yusuf, dan ini adalah saudaraku, Bunyamin. Allah telah memberikan rahmat-Nya kepada kami.” (QS. Yusuf: 90)

Saudara-saudaranya terkejut dan malu. Mereka langsung menundukkan kepala, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkanmu atas kami, dan kami benar-benar orang-orang yang bersalah.” (QS. Yusuf: 91)

Namun dengan lembut, Yusuf berkata, “Tidak ada cercaan untuk kalian hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

“Bergembiralah! Karena sekarang, Allah telah menyatukan kita kembali. Dan untuk apa yang kalian lakukan, janganlah kalian bersedih; Allah telah mengatur segalanya untuk kebaikan kita.” (QS. Yusuf: 86)

Kemudian Yusuf menambahkan kepada saudara-saudaranya, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Cerita ini menyampaikan pelajaran tentang kekuatan pemaafan, kasih sayang keluarga, dan keyakinan terhadap rencana Allah yang penuh kebijaksanaan.


Komentar