Langsung ke konten utama

Cerita Nabi : Berita Nabi Yusuf Masih Hidup (11)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami mempersembahkan kisah Nabi Yusuf (AS), sebuah kisah yang sarat dengan pelajaran moral dan hikmah mendalam. Dalam perjalanan hidupnya yang penuh penderitaan—mulai dari dijauhkan dari ayahnya oleh saudara-saudaranya hingga diangkat menjadi penguasa Mesir—Yusuf menunjukkan keteladanan dalam kesabaran, pengampunan, dan keyakinan kepada Allah. Kisah ini tidak hanya menggambarkan kekuatan ikatan keluarga, tetapi juga mengajarkan kita bahwa dalam setiap ujian terdapat peluang untuk belajar dan tumbuh. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk menghadapi tantangan hidup dengan penuh harapan dan saling memaafkan.

Yusuf Menyatakan Jati Dirinya

Setelah mengalami banyak penderitaan, termasuk dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, Yusuf (AS) diangkat menjadi penguasa Mesir berkat kemampuannya menafsirkan mimpi. Suatu hari, ketika saudara-saudaranya datang untuk membeli makanan karena kelaparan yang melanda, Yusuf mengenali mereka, tetapi mereka tidak mengenalinya. Dalam suasana tegang, Yusuf tiba-tiba menimpali mereka,

“Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?” (QS. Yusuf: 89).

Saudara-saudaranya terkejut mendengar suara yang mereka kenal. Salah satu dari mereka, yang paling tua, berkata dengan suara gemetar, “Kau... kau ini benar-benar Yusuf?”

Yusuf menjawab tegas, “Akulah Yusuf, dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90).

Mendengar pengakuan itu, hati saudara-saudaranya dipenuhi penyesalan. Mereka saling berpandangan dan salah satu dari mereka berkata, “Ya Yusuf, sungguh kami telah berbuat salah! Maafkan kami. Kami tidak tahu akan akibat perbuatan kami.”

Yusuf, dengan penuh kasih, menjawab, “Tidak ada kesalahan yang perlu dibalas dengan kebencian. Allah telah memberi kita kesempatan untuk saling memaafkan. Aku memaafkan kalian dan akan memintakan ampunan kepada Allah untuk kalian.” (QS. Yusuf: 92).

“Kami tidak layak mendapatkan maafmu,” kata saudara yang lain, sambil menundukkan kepala, “Kami sangat menyesal.”

Setelah saling bermaafan, Yusuf bertanya tentang keadaan ayahnya. Ia bertanya dengan suara lembut, “Bagaimana kabar ayahku?”

Saudara-saudaranya menjawab dengan penuh kesedihan, “Ayah kami sangat berduka. Ia telah kehilangan penglihatannya karena kesedihan yang mendalam.”

Yusuf merasa sangat sedih mendengar kabar tersebut. “Di mana ia sekarang?” tanya Yusuf dengan cemas.

Saudara-saudaranya menjawab, “Ia masih di rumah, selalu mengenangmu.”

Yusuf berdoa dalam hati agar bisa bersatu kembali dengan ayahnya. Ia kemudian berkata, “Pergilah kalian dengan membawa baju gamisku ini. Letakkanlah baju ini di wajah ayahku, niscaya ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.” (QS. Yusuf: 93).

Kembali ke Palestina

Saudara-saudaranya bergegas meninggalkan Mesir dengan membawa baju Yusuf, menuju kampung halaman mereka di Palestina. Dalam perjalanan, sebelum mereka tiba, Nabi Ya’qub (AS) merasakan sesuatu yang aneh. Ia berkata kepada keluarganya, “Sesungguhnya aku mencium wangi Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (QS. Yusuf: 94).

Keluarga Ya’qub terkejut dan salah satu dari mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” (QS. Yusuf: 95).

Namun, Ya’qub tidak berhenti berharap. “Aku yakin ini adalah berita baik,” katanya dengan penuh keyakinan. “Kita akan segera tahu.”

Ketika saudara-saudaranya akhirnya tiba dan menyampaikan berita gembira sambil memperlihatkan baju gamis Yusuf, air mata bahagia mengalir di wajah Ya’qub. Ia berkata dengan suara bergetar, “Wahai anakku, ini adalah baju yang telah disampaikan kepadaku. Sesungguhnya Allah telah mengembalikan anakku kepadaku!”

Ketika baju itu diletakkan di wajahnya, Nabi Ya’qub mendapatkan kembali penglihatannya. “Alhamdulillah! Allah telah mengabulkan doaku,” ucapnya penuh syukur. Ia bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya.

Pelajaran dari Kisah Ini

Kisah Yusuf mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran, pengampunan, dan kepercayaan kepada Allah. Yusuf menunjukkan sikap pemaaf kepada saudara-saudaranya meskipun mereka telah berbuat salah besar. Ini mengingatkan kita bahwa selalu ada harapan dan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa dan bersabar, serta pentingnya menjaga hubungan keluarga.

Komentar