Cerita Anak : Termasuk Tanah Jenis Apakah Kita Ini? Aku Maunya Tanah Subur. Jangan Tanah Sengketa, ya!
Cerita Anak : Syifa dan Hujan Ilmu
Di sebuah desa yang cerah, hiduplah seorang gadis cerdas bernama Syifa. Ia sangat suka belajar dan selalu ingin membantu orang lain. Suatu hari, saat bermain di taman, Syifa merenung tentang bagaimana ilmu dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Inspirasinya
“Ilmu itu seperti hujan,” pikir Syifa. “Ada banyak cara ilmu bisa membantu, tergantung pada siapa yang menerimanya.” Ia membayangkan tiga jenis tanah sebagai perumpamaan.
Tanah Subur
“Tanah yang baik menyerap air dengan baik,” Syifa membayangkan. “Tanah ini menumbuhkan banyak tanaman dan rerumputan. Ini adalah gambaran orang yang menerima petunjuk Allah, mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya kepada orang lain. Mereka membuat dunia menjadi lebih indah.”
Tanah yang Menampung Air
Kemudian, Syifa berpikir tentang tanah ajadib. “Tanah ini bisa menampung air tetapi tidak bisa menyerapnya. Meskipun begitu, air yang tertampung masih bermanfaat bagi orang lain, seperti orang yang tidak sepenuhnya memahami ajaran, tetapi tetap bisa membantu sesama.”
Tanah Kering
“Lalu ada tanah qi’an,” lanjutnya. “Tanah ini tidak dapat menampung atau menyerap air. Ini menggambarkan orang yang menolak ilmu dan tidak bermanfaat bagi diri mereka sendiri atau orang lain.”
Kesimpulan Syifa
Dengan pemikiran itu, Syifa berdiri dan berkata kepada teman-temannya yang bermain di dekatnya, “Ayo kita jadi seperti tanah yang baik! Kita harus belajar dan menyebarkan ilmu kepada orang lain!”
Ia mengingat hadits Rasulullah SAW yang berkata,
"Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah.
Maka ada tanah yang baik,
yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak.
Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya),
maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang,
sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini.
Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya.
Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air).
Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya.
Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.”
Teman-temannya setuju, dan bersama-sama mereka bertekad untuk menjadi sumber kebaikan di desa mereka. Sejak hari itu, Syifa dan teman-temannya belajar dengan giat, berbagi ilmu, dan membantu sesama, seperti hujan yang menyuburkan tanah dan memberi kehidupan.
Komentar
Posting Komentar