Cerita Anak Balita: Makan Seru Bersama Ayah
Suatu hari, di sebuah rumah kecil yang ceria, hiduplah seorang anak balita bernama Syafi'i. Syafi'i sangat suka makan, tapi ia sering lupa cara yang benar. Suatu pagi, saat sarapan, Ayah Syafi'i memanggilnya dengan suara ceria.
"Wahai Anakku, bacalah 'Bismillah'," kata Ayah dengan senyuman.
Syafi'i berpikir sejenak, lalu berkata, "Bismillah... Biskuit enak!" Sambil tertawa, ia mengangkat biskuitnya.
"Eh, bukan biskuit! 'Bismillah' itu berarti 'Dengan nama Allah'. Kita minta berkah dari Allah sebelum makan," jelas Ayah sambil tertawa. Bismillah sudah cukup, tapi jika ingin dipanjangkan menjadi 'Bismillahirrahmanirrahim', itu juga baik. Artinya adalah 'Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang'.
"Oooh! Jadi, Bismillah itu seperti magic word supaya makanan enak ya, Ayah?" tanya Syafi'i dengan mata berbinar.
"Betul sekali! Dan ingat, ada sebuah hadis yang mengatakan, 'Jika saja dia makan dengan (menyebut) nama Allah, pasti makanan ini akan mencukupi kalian semua' (HR. Tarmizi). Selain itu, Nabi Muhammad juga bersabda, 'Wahai Anakku, bacalah “bismillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu' (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)."
"Wow! Itu keren, Ayah!" kata Syafi'i semangat.
"Sekarang, makanlah dengan tangan kananmu," perintah Ayah.
Syafi'i mengangguk dan mencoba makan dengan tangan kanannya. Tapi, ia malah menggigit jari tangannya! "Aduh, Ayah! Tangan saya terasa enak juga!" kata Syafi'i sambil tertawa geli.
Syafi'i melirik piringnya, di sana ada nasi, sayur, dan ayam. "Tapi Ayah, kalau ada apel di hadapan saya, saya lebih suka!" sahutnya.
Ayah pun tertawa dan berkata, "Ingat, nak, kita harus makan makanan yang ada di hadapanmu. Kita hanya memakan makanan yang ada, kita tidak perlu mengeluh tentang makanan yang tidak ada di depan kita. Kita harus bersyukur dengan apa yang tersedia di hadapan kita."
"Baiklah, Ayah! Saya akan ingat itu!" kata Syafi'i sambil tersenyum.
Setelah itu, Syafi'i dengan semangat berdoa, "Bismillah... sekarang saya mau makan!" Dengan serius, ia mulai menyuapkan nasi ke mulutnya, tetapi nasi itu jatuh ke lantai!
Syafi'i terkejut dan berkata, "Ayah, nasi saya ingin terbang!"
Ayah tertawa dan menjawab, "Kalau nasi mau terbang, kita harus pakai pesawat, bukan sendok!"
Syafi'i pun ikut tertawa, dan mereka melanjutkan makan bersama sambil sesekali bercanda.
Akhirnya, setelah selesai makan, Syafi'i berseru, "Terima kasih, Ayah, untuk sarapan yang seru! Saya akan selalu ingat untuk 'Bismillah', makan dengan tangan kanan, dan memilih makanan yang ada di hadapan saya!"
Ayah tersenyum bangga, "Bagus sekali, nak! Sekarang, kita bisa pergi mencari apel sebagai hadiah!"
Dan mereka pun berlari ke luar rumah, tertawa bahagia, sambil merencanakan petualangan mencari apel mereka.
Tamat
Komentar
Posting Komentar