Langsung ke konten utama

Cerita Anak : Kisah Iblis yang Diusir dari Surga dan Dikutuk Allah

Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah yang tua dan penuh hikmah, lalu memerintahkan semua malaikat dan Iblis untuk sujud sebagai tanda penghormatan. Namun, Iblis yang sombong menolak dan diusir dari surga. Dia meminta waktu hingga Hari Kiamat untuk menggoda manusia, tetapi Allah menegaskan bahwa hanya yang memilih jalan sesatlah yang akan tertipu, sementara jalan lurus selalu terbuka bagi hamba-hamba-Nya yang taat.

Nak, dulu banget, Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah kering yang sudah sangat tua. Tanah itu berwarna hitam dan berbau khas karena usianya yang sangat panjang. Kalau tanah itu diketuk, bisa mengeluarkan suara! Meskipun tanah itu sudah tua dan berbau, Allah memilihnya dengan sangat istimewa untuk membuat manusia pertama, yaitu Nabi Adam. Begitulah, meskipun bahan untuk menciptakan Adam terlihat sederhana, tetapi Allah memilihnya dengan kebesaran dan hikmah yang luar biasa1.

Tapi sebelum itu, Allah menciptakan bapak jin terlebih dahulu, lho! Bapak jin ini dibuat dari api yang sangat panas2.

Ibu tersenyum, menarik nafas, lalu mulai bercerita dengan penuh rasa, "Nak, pernahkah kamu mendengar tentang cerita yang sangat dramatis dan sedikit lucu ini? Jadi begini, suatu hari, Allah bilang ke para malaikat, 'Aku akan membuat manusia pertama, Nabi Adam, dari tanah yang berwarna hitam dan kalau diketuk bisa bersuara3. Setelah aku menyempurnakan dan meniupkan roh padanya, kalian tunduk padanya, ya!4' Allah meminta semuanya untuk sujud kepada Nabi Adam, sebagai tanda penghormatan. Semua malaikat pun sujud dengan penuh hormat5-, tetapi ada satu sosok yang tidak mau. Iblis. Jadi, iblis menolak untuk sujud kepada Nabi Adam6.

Ibu melanjutkan, "Nah, Iblis ini sebenarnya adalah pemimpin para jin, lho!

Anak mendengarkan dengan penasaran, "Terus, apa yang terjadi, Bu?"

Ibu melanjutkan dengan suara lembut, "Allah, yang selalu sabar, bertanya dengan serius, 'Iblis, kenapa kamu tidak mau sujud bersama malaikat-malaikat yang sudah melaksanakan perintah-Ku?' Tapi Iblis tetap dengan kesombongannya, menjawab, 'Aku lebih baik dari dia! Kenapa saya harus sujud pada manusia yang dibuat dari tanah hitam yang bau? Saya lebih mulia!' Wah, Iblis ini kayak anak yang merasa lebih pintar dari semua temannya, ya?"' Allah pun sangat marah dan berkata dengan tegas, 'Kalau begitu, kamu keluar dari surga! Kamu terlaknat! Tidak ada tempat untuk orang sombong seperti kamu di sini, kamu terkutuk! Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat'  Dan dengan dramatis, Iblis diusir keluar dari surga, tidak bisa kembali lagi. Begitu Iblis merasa dirinya lebih hebat, ternyata dia yang justru kehilangan segalanya! Lucu kan, Nak? Kesombongan akhirnya membuat dia jatuh jauh."

Anak tertawa, "Jadi, Iblis yang sombong itu diusir?"

Ibu tertawa kecil, "Iya, Nak! Begitulah kadang, kalau kita terlalu sombong, kita bisa kehilangan semuanya. Jadi, jangan sampai kita jadi seperti Iblis, ya?"

Ibu tersenyum, "Iya, Nak. Tapi Allah selalu menunjukkan jalan yang benar kepada kita. Jadi, kita harus selalu berhati-hati dan memilih untuk berjalan di jalan yang lurus, jalan yang membawa kita dekat dengan Allah."

"Nak, setelah Allah mengusir Iblis dari surga, Iblis merasa sangat marah dan kecewa. Jadi, dia berkata, 'Ya Rabb, beri aku waktu! Jangan biarkan aku mati sekarang! Tolong tunda sampai Hari Pembangkitan, sampai semuanya bangkit dari kubur!' Allah, dengan penuh kebijaksanaan, menjawab, 'Baiklah, kamu diberi waktu, sampai tiupan sangkakala yang pertama yang akan membuat semua makhluk mati.'"

Anak penasaran, "Apa yang Iblis lakukan setelah itu, Bu?"

Ibu melanjutkan dengan lebih dramatis, "Iblis, yang merasa kecewa, berkata lagi, 'Karena Engkau sudah menyesatkanku, aku akan menggoda semua manusia. Aku akan membuat mereka berpikir bahwa kemaksiatan itu baik, dan aku akan menjauhkan mereka dari jalan yang benar. Tapi, ada satu hal yang aku tahu. Aku tidak bisa menggoda hamba-hamba-Mu yang Engkau pilih untuk selalu beribadah kepada-Mu.'"

Anak mendengarkan dengan penuh perhatian, "Terus apa kata Allah, Bu?"

Ibu mengangguk, "Allah berkata dengan tegas, 'Ini adalah jalan yang lurus, jalan yang mengantar mereka kepada-Ku. Kamu tidak akan bisa menyesatkan hamba-hamba-Ku yang terpilih, kecuali mereka yang memilih untuk mengikuti jalanmu.' Iblis pun tahu, dia hanya bisa menggoda mereka yang tersesat, yang tidak mendengarkan petunjuk Allah."

Anak berpikir sejenak, lalu bertanya, "Jadi, Iblis cuma bisa menyesatkan orang yang ikut dia, ya?"

Ibu tersenyum, "Iya, Nak. Tapi Allah selalu menunjukkan jalan yang benar kepada kita. Jadi, kita harus selalu berhati-hati dan memilih untuk berjalan di jalan yang lurus, jalan yang membawa kita dekat dengan Allah."

Setelah itu, sesuatu yang aneh terjadi, Nak. Iblis yang tadinya tampak seperti malaikat, tiba-tiba berubah menjadi makhluk yang sangat berbeda. Dia mengeluarkan suara aneh yang seperti lonceng berdentang, dan setiap suara lonceng yang kita dengar di bumi, itu adalah bagian dari kutukan yang Allah beri kepadanya. Suara itu terus ada hingga Hari Kiamat, lho!"

Anak mengerutkan dahi, "Jadi, Iblis selalu terdengar seperti lonceng?"

Ibu mengangguk pelan, "Iya, Nak, setiap lonceng yang kita dengar adalah bagian dari kutukan Iblis. Tapi ingat, meskipun Iblis dikutuk dan terbuang dari surga, kita selalu diberikan petunjuk oleh Allah untuk memilih jalan yang benar. Kita harus selalu hati-hati agar tidak terpengaruh oleh godaan Iblis, ya?"

Anak tersenyum, "Iya, Bu! Kita harus jalan yang benar!"

Kesimpulan:

Dari cerita ini, kita bisa belajar bahwa Allah menciptakan Nabi Adam dengan penuh kebijaksanaan, meskipun bahan penciptaannya sederhana, yaitu tanah hitam yang berbau. Tetapi yang lebih penting adalah hikmah yang terkandung di dalamnya. Sementara itu, Iblis yang sombong menolak untuk sujud kepada Nabi Adam dan akibatnya ia terkutuk dan diusir dari surga. Meskipun Allah memberi Iblis waktu hingga Hari Kiamat, Iblis tetap tidak bisa menggoda orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah. Kita sebagai manusia harus selalu hati-hati dan memilih jalan yang benar, yang telah ditunjukkan oleh Allah.

Source : Quran Surah Al-Hijr ayat 26-42 (Tafsir Mokhtasar Indonesian / Malay)

1-2: Terjemahan per kata - Quran Surah Al-Hijr ayat 26-27

Komentar

Postingan populer dari blog ini